
Sepucuk Doa
Kupandangi langit metropolitan
Terbentang luas membiru
Merajut mimpi-mimpi
Di kota tua jalan hidupku
Ibu….
Kan kupetikkan birunya untukmu
Tuk menghiasi relung hatimu
Kan kuhapuskan airmatamu
Dengan sejuta bintangku
Dalam perjuanganku menuntut ilmu
Aku rindu ibu…
Aku rindu…
Rindu dalam dekapan kasih sayangmu
Rindu dalam tetesan cintamu
Ibu…
Hanya seuntai doa pengharapanku
Rabbighfirli..
Waliwalidayya…
Waliwalidayya…
Warhamhuma..
Kama robbayani soghiro
Ya Allah Tuhan robbiku
Ampunilah hamba
Ampunilah kedua bapak ibu hamba
Ampuni Ya Allah ampuni
Dan kasihanilah mereka ya Allah
Seperti mereka mengasihi hamba di waktu kecil
Amin…
Amin ya Robbal ‘alamin
Ibu…
Dalam tiap putaran waktu
Ku ingin selalu bersamamu
Kapankah kita bertemu lagi Ibu
Oh ibu…
I love you…
Retno Achsana S (Smamda-X5)
Numpang Lewat...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
bahasa adalah jiwa, jika berkata hati akan terasa.
Kedalaman makna hanya bisa dirasa bukan menjadi logika
maka berkatalah dengan hati niscaya kata-kata akan lebih bermakna dalam jiwa.
Yah...anak-anak sekolah
yang berada di tengah pertempuran antara hitam dan putih,
benar dan salah
teruslah berkarya karena sedikit hasil yang didapat
lebih baik daripada tidak sama sekali....sebab
setitik kebajikan ataupun keburukan
Allah tidak pernah luput
mencecahkan catatan
lewat para malaikatNya.
oleh karena itu
jadikan hati untuk merasa,
pikiran untuk berlogika
bahasa untuk bersuara
dan kerja untuk berbakti kepadaNya
doa guru kalian semoga menjadi pengiring langkah kreatif
menuju kemenangan di berbagai pertempuran
terutama adalah
bertempur melawan ketidakmampuan
dan keraguan
untuk memperoleh keyakinan
bahwa
siapa yang berusaha
pasti akan mendapatkan.
Posting Komentar