Mari bergabung dalam sebuah komunitas orang-orang cerdas dan kreatif. Kirim karya Anda ke: rose_efde@yahoo.com

Numpang Lewat...

16.13 / Diposting oleh Rosyi / komentar (0)


PENDIDIKAN UNTUK KEMAJUAN BANGSA
Fathimah (Surabaya)

Pada dasarnya, seorang anak membutuhkan sosialisasi dengan teman sebayanya. Bukan hanya dengan melakukan permainan seperti petak umpet, tetapi juga dengan sekolah. Sekolah adalah salah satu media pembentuk kepribadian seorang anak. Selain bersosialisasi, para siswa pasti akan mendapatkan yang namanya pendidikan. Pendidikan adalah faktor utama untuk memperbaiki kualitas penerus bangsa Indonesia. Akan tetapi, pendidikan membutuhkan modal yang lumayan besar. Ini membuat para orangtua yang berasal dari kalangan menengah ke bawah merasa keberatan. Mereka merasa lebih baik anaknya bekerja dan menghasilkan uang sehingga tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk sekolah. Namun hal itu kini tidak terlalu meresahkan bagi rakyat kecil yang mau dan berusaha untuk memanfaatkan program pemerintah dengan maksimal. Seperti yang kita lihat di televisi, sekarang ada program pemerintah yaitu “Sekolah Gratis” (iklan layanan masyarakat: sekolah gratis). Program ini dan program-program pemerintah yang lain bisa diwujudkan karena anggaran pendidikan dari APBN. Tujuannya adalah meringankan beban dan memakmurkan masyarakat. APBN didapat dari penerimaan dalam negeri dan hibah. Penerimaan dalam negeri dibagi lagi menjadi dua, yaitu penerimaan dari pajak dan bukan pajak. Sumber dana APBN dibagi jadi beberapa bagian, yaitu: I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Dari pajak a. Penerimaan pajak dalam negeri: i. Pajak Penghasilan (PPh) ii. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) iii. Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) iv. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) v. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (PBHTB) vi. Cukai vii. Pajak lainnya b. Pajak perdagangan internasional : i. Bea Masuk ii. Bea Keluar 2. Bukan pajak a. Penerimaan Sumber Daya Alam i. Migas • Minyak Bumi • Gas Alam ii. Non-migas • Pertambangan Umum • Kehutanan • Perikanan b. Penerimaan laba pemerintah atas laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN) c. PNBP lainnya d. Pendapatan BLU II. Hibah Untuk Si “Topi Merah dan Biru” Umumnya, wajib belajar di Indonesia adalah sembilan tahun. Itu pun masih banyak anak yang belum mendapatkan hak untuk belajar. Ini bisa dilihat dari rendahnya pendidikan di Indonesia. Banyak anak yang tidak mampu malah menjadi pemulung, gepeng, bahkan menjadi PRT. Kenyataan ini sangat bertentangan dengan iklan-iklan pemerintah yang menyatakan bahwa setiap anak wajib belajar sembilan tahun. Pada tahun ini, pemerintah mengalokasikan dana APBN sebesar 20% untuk pendidikan nasional, dana tersebut berkisar Rp 207,4 triliun. Seyogyanya dana tersebut bisa membantu pendidikan rakyat kecil, sehingga semua anak bisa menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Penambahan alokasi dana pendidikan berfokus kepada peningkatan profesionalitas dan kesejahteraan, serta peningkatan mutu pendidikan dan penelitian untuk memperkuat daya saing bangsa. Menurut saya, alokasi dana pendidikan lebih baik ditingkatkan untuk siswa SD dan SMP. Mengapa begitu? karena di Indonesia mempunyai program wajib belajar sembilan tahun, sehingga untuk merealisasikan wajib belajar sembilan tahun akan terasa lebih ringan. Apalagi siswa SD dan SMP semakin tahun semakin meningkat dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Biaya-biaya tersebut tidak hanya untuk membeli keperluan sekolah, seperti buku, seragam, dll, tetapi juga untuk memperbaiki bangunan kelas dan sekolah yang sudah tidak layak pakai. Jika keadaan kelas dan sekolah itu nyaman, maka siswa akan lebih berkonsentrasi ketika menerima pelajaran. Realisasi dana APBN yang dialokasikan untuk pendidikan bisa dilihat dari mulai disosialisasikannya program pemerintah, yaitu sekolah gratis untuk siswa SD dan SMP Negeri. Ini sangat membantu bagi orang yang menengah ke bawah. Bagi yang bisa melihat peluang, maka ia akan berusaha memaksimalkan dan mendukung program ini (iklan layanan masyarakat : sekolah gratis). Hubungan pendidikan dengan kemajuan bangsa Pendidikan tinggi menjadi salah satu penentu dalam kemajuan suatu bangsa. Alasannya, dalam konteks daya saing global, peranan pendidikan tinggi sangat penting dalam mendorong percepatan kemajuan bangsa. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) Paskah Suzetta mengatakan, pemerintah mengambil strategi pengembangan dinamika pengembangan ekonomi global yang digerakan ilmu pengetahuan. Paskah mengatakan, strategi ini menempatkan pendidikan tinggi pada posisi yang strategis. "Lulusan perguruan tinggi akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Inilah yang disebut knowledge driven economic growth," katanya. Pemerintah memang sudah berupaya semaksimal mungkin dalam menjalankan tugasnya untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mempertahankan daya saing nasional, maka anggaran pembangunan infrastruktur setiap tahunnya terus ditingkatkan. Pada tahun 2005, anggaran yang dialokasikan untuk infrastruktur mencapai Rp19,68 triliun, pada tahun 2009 meningkat menjadi Rp 63,78 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 224,08%. Hal ini ternyata memberikan dampak positif, yaitu menurunnya tingkat pengangguran di Indonesia. Data Susenas Maret 2008 menunjukkan bahwa penduduk miskin Indonesia mengalami penurunan sebesar 2,2 juta orang, dari 37,2 juta orang (16,58 persen) pada Maret 2007 menjadi 34,96 juta orang (15,42 persen) pada Maret 2008. Jika kita tarik benang merah diantara dua hal yang berbeda ini, ternyata pendidikan memang penting untuk kemajuan bangsa. Dan bangsa yang maju adalah bangsa yang pendidikan di negaranya benar-benar bagus dan berkualitas sehingga mencetak generasi yang unggul.















Daftar Pustaka
Kompas.com. 7 Januari 2009. Bappenas: Peran Perguruan Tinggi Penting. [Online]. Tersedia : http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/07/22502149/Bappenas.Peran.Perguruan.Tinggi.Penting. [12 April 2009]

Antara.co.id. 27 Agustus 2008. Pemerintah Jelaskan Peran Strategis APBN 2009. [Online]. Tersedia : http://www.antara.co.id/arc/2008/8/27/pemerintah-jelaskan-peran-strategis-apbn-2009/. [12 April 2009]

Fiskal.depkeu.go.id. 2009. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, 2008 dan 2009. [Online]. Tersedia : http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/link.asp?link=1100000. [06 April 2009]

Artikel

15.52 / Diposting oleh Rosyi / komentar (0)


Kecanduan Internet

Dewasa ini, penggunaan internet tidak hanya populer di kalangan orang dewasa atau orang tua saja, para pelajar mulai dari mahasiswa, anak SMA, SMP, sampai anak SD juga sangat gandrung dengan internet. Bahkan, lebih sering kepentingan mereka bersifat seketika, harus dipersiapkan dengan kerja serius dan penuh cekatan. Misalkan untuk mengerjakan tugas sekolah, kampus atau kegiatan ekstra kurikuler lainnya. Namun, tak sedikit pula di antara mereka yang menggunakan internet untuk hal-hal yang nyeleneh, seperti membuka situs porno, atau bermain games yang tidak mendidik. Oleh karena itu, penggunaan internet di kalangan pelajar harus benar-benar mendapatkan seleksi yang ketat dari orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orang tua. Hal itu perlu dilakukan untuk meminimalisasikan dampak negatif penggunaan internet bagi pelajar. Karena jika tidak mendapatkan pengawasan, dapat menyebabkan perilaku generasi muda menyimpang dan merusak bangsa ini. Apalagi jika anak tersebut telah “kecanduan internet”, kasus ini harus segera mendapatkan penanganan serius agar tidak kebablasan.

Ciri-ciri anak yang “kecanduan internet” adalah pertama, bermain games online dan chatting lebih dari 4 jam sehari. Ada saja yang mereka lakukan di internet, ada yang digunakan hanya untuk sekadar mengecek email, mini-homepage, massanger, dan sebagainya. Hingga tanpa sadar, waktu yang mereka gunakan bisa memakan waktu berjam-jam lamanya. Kedua, mengorbankan kegiatan lain seperti waktu les/bimbingan belajar dan waktu bermain dengan teman hanya demi membuka internet. Karena banyak yang dikorbankan, biasanya anak yang demikian, akan sering memperoleh nilai jelek di sekolah. Bahkan parahnya, sering ketiduran di kelas karena waktu istirahat mereka digunakan untuk berinternet. Ciri ketiga, anak yang keranjingan internet akan lebih menyukai kegiatan membina jaringan cyber friends daripada keluarga. Ciri ini adalah ciri yang paling parah karena anak cenderung tidak mempedulikan keluarga. Mereka lebih suka bermain dengan teman-temannya di dunia maya daripada mengindahkan perhatian keluarga. Jika masalah “kecanduan internet” ini tidak segera ditangani, maka akan timbul masalah-masalah yang lebih berat.

Di sinilah peran orang tua sangat penting dalam program penggunaan internet sehat. Para orang tua sebaiknya sesekali mendampingi putra putrinya saat membuka internet, agar para orangtua mengerti apa yang dilakukan oleh putra-putrinya saat membuka intenet, seperti situs apa yang mereka buka dan dengan cara menasehati putra putri mereka agar mereka tidak menyalahgunakan penggunaan internet. Hal ini adalah cara pertama dalam penanganan “kecanduan internet”. Intinya, anak hanya boleh menggunakan komputer untuk berinternet kalau mendapatkan izin dari orang tua. Cara yang kedua adalah anak diperbolehkan menggunakan internet kalau dia sudah menyelesaikan aktivitasnya sehari-hari, seperti mengerjakan PR, les privat atau bimbingan belajar, dan sebagainya. Itu pun penggunaannya harus dibatasi hanya dalam 1—2 jam saja. Cara yang ketiga, anak hanya diperbolehkan membuka internet untuk mencari informasi-informasi penting yang berkaitan dengan pelajaran atau ilmu yang bermanfaat. Cara yang keempat, internet dapat digunakan untuk menulis catatan-catatan penting berkaitan dengan kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, fungsi internet bukan hanya untuk browsing, download, chatting, dan sebagainya tetapi juga dapat membantu mengingatkan setiap kegiatan yang kita lakukan. Hal ini pasti sangat membantu. Cara yang kelima, ingatkan pada diri sendiri agar tidak kehilangan waktu istirahat karena berinternet. Kalau sampai kebablasan, waktu aktif kita di pagi hari akan terbuang karena kita mengantuk. Cara terakhir, guru dapat memberikan tugas untuk browsing data yang berkaitan dengan pelajaran atau meminta siswa untuk membuat blog yang berisi segala ide kreatif mereka. Dengan demikian diharapkan siswa tidak membuka situs-situs yang “aneh”. Dengan membuat blog, diharapkan siswa dapat eksis dengan menuangkan segala kreativitas yang mereka miliki. Setiap hari mereka dapat posting tulisan terbaru mereka dan dapat dibaca oleh semua orang. Tentu hal ini sangat bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Selain itu, guru juga perlu sewaktu-waktu memberikan penyuluhan kepada siswa tentang “dua sisi penggunaan internet” (dampak positif dan negatif penggunaan internet) sehingga siswa mengetahui baik buruknya penggunaan internet dan mampu menghindari dampak negatif penggunaan internet.

Semua cara itu hanya sebatas “cara” kalau kita tidak mengindahkannya. Semua itu kembali kepada masing-masing individu, mau menggunakan internet secara sehat atau mau “kecanduan internet”? Anda, silahkan memilih mana yang terbaik. Selamat mencoba!

Data Diri Penulis
Nama Peserta : Sarah Aulia Fadhilah

Dongeng

22.01 / Diposting oleh Rosyi / komentar (0)

Bubur jawa
Nino,tengah berjalan-jalan di pasar tradisional di Surabaya,kebiasaan berkuliner sudah sering di lakoninya sejag berumur 12 tahun,kini di umurnya yang sudah 21 tahun,ia malah lebih gencar melakukan hobinya berkuliner menyusuri seluruh pasar tradisional di kota-kota besar,khususnya di Jawa,karena targetnya memang masakan tradisional.
Pada Suatu sore,saat sedang menyusuri pasar itu,Nino menemukan banyak sekali warna-warna menarik pada suatu makanan yang di jual oleh bibi penjual di pasar itu,dan rupanya,Nino sangat tertarik untuk mencoba makanan yang terlihat seperti bubur itu.”bu…,itu harganya berapa?” Tanya Nino ramah pada bibi penjual.
“oh 3500,boleh di pisah-pisah ko nak” jawab Bibi dengan logat jawa kental.Nino masih menatap makanan itu seksama,terdapat bulatan-bualatan coklat di salah satu tmpat makanan itu,Nino semakin penasaran dengan makanan jenis ini.”Bu….ini namanya apa?” Tanya Nino lagi sambail menujuk kearah makanan makanan itu.”BUBUR JAWA nak….” Jawab bibi itu masih dengan sabar meladeni setiap pertanyaan nino.”oh bubur jawa bu….,saya mau satu bu,campur aja semuanya ya….” Jawab Nino girang.
Bubur Jawa akhirnya datang juga setelah sekitar 5 menit pembuatannya,Nino memperhatikan satu persatu pengerjaan bubur itu,Setelah sampai di tangannya,Nino menyantapnya dengan lahap,bubur jawa itu nikmat sekali,santannya yang terakhir kali di tuangkan ke dalam bubur yang terdapat ketan hitam,beras,dan lain-lainnya itu terasa amat jelas di lidah,seketika,nino teringat dengan kata-kata orang tuanya dulu padanya.
Mereka selalu bilang,bahwa bubur Jawa ini adalah makanan yang amat di agungkan di jawa pada zaman dahulu,bubur ini biasanya di pakai untuk menysukuri kelahiran,nujuh bulan,kedatangan sanak saudara yang baru saja menunaikan ibadah hajji,Nino memang tak pernah merasakan bubur itu,yang ia ketahui,rasanya hanya manis dan gurih,Nino lalu menatap bubur itu lekat lagi,ia rindu ke dua orang tuanya,ia ingin sekali segera pulang dan memeluk keduanya sambil membawakan bubur Jawa ke rumahnya untuk santapan bersama,nino lalu meletakan mangkuk buburnya yang telah habis bersih,dan segera meminta satu bungkusan untuk di bawa ke rumah.”bu…saya pesan satu di bungkus ya…..” katanya lagi pad ibu itu yang terlihat berbinar,lalu membungkuskan satu bubur Jawa untuk orang rumah
Nino terliaht amat bahagia saat menuju ke rumahnya,ia mengayun-ayunkan mangkuk bungkusan bubur tadi,ia ingin,ibu dan bapaknya merasakan sama-sama bubur Jawa,karena ia tahu,ibu dan bapaknya sangat suka bubur Jawa.
Nama: RIESTY AQMARINA